Kembalinya Raden Kian Santang

Synopsis

Raden Kian Santang, pengembaraan panjang telah mengantarnya ke tempat yang paling dirindukan umat Islam: yakni Baitullah! “Labbaikallahumma labbaik! Labbaika la syarikalaka labbaik...!” Ditengah sholatnya Kian Santang dihadiahkan sebuah pedang dengan pesan Raden Kian Santang mendakwahkan Islam di Tanah Jawa.

 

Sementara itu di Pajajaran...

 

Subanglarang di istana Kaputren sedang menderita sakit akibat rindu yang kian memuncak kepada anak-anaknya yang sudah lima tahun lebih mengembara tanpa kabar. Siliwangi berusaha menghibur dan mengatakan bahwa anak-anaknya baik-baik saja. Subanglarang sakit parah. Bahkan tabib-tabib istana telah angkat tangan menangani penyakit Subanglarang. Obat dari penyakit rindu hanyalah bertemu. Sakit Subanglarang hanya bisa sembuh apabila anak-anaknya pulang.

 

Dan... tiba-tiba hari itu dikabarkan anak-anak pulang dari pengembaraannya, Subanglarang yang sakit dan lemah, mendadak bisa bangun, menghambur hendak menyambut anak-anaknya...

 

Subanglarang begitu gembira, muncullah Walangsungsang dan Rarasantang. Subanglarang merangkul dan menciumi mereka penuh kasih sayang. Tapi beberapa saat kemudian dia menyadari: “Mana Kian Santang? Kenapa tidak bersama kalian?”

 

Walangsungsang lalu menceritakan bahwa mereka berpisah jalan, sejak pertama mereka mengembara. Tapi mereka sudah berjanji akan kembali ke Pajajaran pada tahun ini. Siliwangi lalu menenangkan Subanglarang. Kian Santang pasti sedang dalam perjalanan kemari dan sebentar lagi akan tiba. Mungkin dalam beberapa hari ini.

 

Kedatangan kembali anak-anak Subanglarang di istana membuat Kentringmanik cemas. Amuk  Marugul terus memprovokasi bahwa Walangsungsa adalah ancaman bagi keponakannya, Surawisesa. Amuk Marugul menyarankan agar Kentringmanik mendesak Siliwangi menetapkan Surawisesa sebagai putra mahkota Pajajaran. Sayang, Surawisesa justru menunjukkan watak kurang terpuji, yang membuat Siliwangi menunda pengangkatan itu. Beberapa kali Surawisesa kedapatan berfoya-foya di wisma kasatriyan. Bahkan Surawisesa terlibat perselisihan dengan Syekh Nurjati.

 

Kian Santang bekerja serabutan membantu penduduk setempat untuk mengumpulkan uang guna bisa kembali ke Tanah Jawa. Bagaimana Kian Santang bisa memiliki uang, setiap dia mendapat uang selalu habis dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan. Hingga suatu saat, dalam kerinduannya yang begitu sangat ke Tanah Jawa, Raden Kian Santang bertemu secara gaib dengan Syekh Siti Jenar. Raden Kian Santang diajari ilmu menembus tanah. Raden Kian Santang pun menembus tanah, kembali ke Tanah Jawa.

 

Raden Kian Santang muncul dari dalam tanah, di daerah Sunda Kelapa. Tapi ilmu menembus tanah itu hanya bisa dilakukan sekali, sehingga Raden Kian Santang harus melanjutkan perjalanan darat menuju Pajajaran. Raden Kian Santang cukup bersyukur setidaknya sudah berada kembali di Tanah Jawa.

 

Kian Santang memulai perjalanan ke Pajajaran, dia bertemu dengan sebuah kampung yang sedang dilanda kekeringan. Sudah dua tahun lamanya hujan tidak turun di kampung itu. Para penduduk saling berselisih, bertengkar, berebut sumber air. Kian Santang mengajak warga untuk melakukan shalat istisqa’, shalat meminta hujan. Tapi shalat istisqa sudah dijalankan, hujan masih belum juga turun, dan warga mulai tidak percaya pada Kian Santang. Malam harinya, Raden Kian Santang menegur warga yang hendak melakukan persembahan “gadis suci” untuk membebaskan kampung dari kutukan. Kian Santang mencegah persembahan tersebut karena itu adalah perbuatan syirik.

 

Ketika hujan turun deras, terjadi guncangan yang luar biasa. Gua itu rupanya tempat semedi Mahesa  yang sedang memperdalam ilmu kanuragan. Sudah bertahun-tahun lamanya dia mempelajari ilmu kanuragan baru untuk membalaskan dendamnya kepada Siliwangi. Ilmu kanuragan ber-aura panas inilah rupanya yang selama ini menyebabkan kekeringan di kampung tersebut.  

 

Mahesa sangat murka karena hujan malam itu telah menggagalkan usahanya bertahun-tahun menguasai ilmu itu dengan meminta tumbal “darah suci“, Mahesa geram. Dia keluar dari kampung dan membuat kerusuhan. Raden Kian Santang pun datang menghadapinya. Terjadi perkelahian sengit antara Kian Santang dan Mahesa. Mahesa kalah. Namun sebelum jurus Kian Santang menggulungnya, sebuah asap berwarna biru lebih dulu menyambar Mahesa dan membawanya kabur. Asap biru yang membawa Mahesa itu segera berubah menjadi sosok Ratu Laut. Dia membawa Mahesa ke Istana Bawah Laut dan mengobati luka-lukanya. Selanjutnya Mahesa dan Ratu Laut bergabung menjadi satu kekuatan yang mengancam Pajajaran.

Photo Gallery

Catch Up Episodes

  • DIRECTOR
    -
  • WRITER
    -
  • PRODUCER
    -
ADS