Tangan Di Atas
Di Sukamakmur, warga tergabung dalam Paguyuban yang dipimpin oleh Dermawan, seorang pria yang memiliki prinsip “GA TIGA” (Ga Bohong, Ga Kriminal, Ga Emosian). Kehidupan mereka yang semula berjalan dengan damai mulai terguncang ketika Tukir, salah satu anggota Paguyuban, ketahuan pura-pura cacat. Perilaku Tukir tersebut menyebabkan kekacauan yang memicu pertikaian internal di dalam komunitas.